Hari itu, Rabu, 28 April 2010, Luh Ayu memulai aktivitas rutinnya yg baru, yaitu belajar menari Bali. Masih terekam dalam ingatanku betapa antusiasnya dia sehari sebelum pelajarannya yang pertama di pelataran Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi. Baginya, menari bali adalah impian masa kanak-kanak nya yang baru terwujud sekarang. Itu berarti 20 tahun-an dia menantikan momen ini. Tidak heran dia begitu riang dan antusias menyambut hari pertamanya, seperti kepolosan anak kecil menyambut hari pertama masuk sekolah :)

LKB (Lembaga Kesenian Bali) Saraswati, di bawah asuhan Bapak Kompiang Raka, membuka beberapa kursus tari Bali. Sanggar tari yang tahun ini berumur 42 tahun, memiliki segudang pengalaman baik nasional dan internasional. Sejak berdiri telah melahirkan 3000 orang penari, bahkan hingga dua (2) generasi, ibu dan anak pernah berlatih di LKB Saraswati. Di tempat inilah, Luh Ayu mengambil jadwal latihan dua kali seminggu, hari Rabu dan Jumat, di dua tempat berbeda. Hari Rabu di Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi, sedang hari Jumat di Taman Ismail Marzuki. Satu sesi latihan berlangsung selama 2 jam, dengan jeda istirahat beberapa kali. Pelajaran pertama bagi pemula adalah tari pendet.

Kostum Pendet

Seminggu dari sekarang, hari minggu 1 Agustus 2010, terhitung 3 bulan (lebih sedikit) sudah Luh Ayu belajar pendet dan dia akan menghadapi ujian pertamanya. Ini juga merupakan pentas pertamanya di depan publik, dengan pakaian pendet lengkap. Hingga saat ini, aku masih merasakan antusiasme yang belum berubah dari dia. Luh Ayu benar-benar menantikan momen ini dan aku rasa dia benar-benar siap untuk itu. Selama 3 bulan latihan, dia begitu bersemangat dan penuh keringat. Dengan peserta latihan tari pendet yang kebanyakan anak2 kecil, Luh Ayu bahkan tak sungkan2 belajar dan bertanya kepada mereka, tanpa rasa malu ataupun gengsi. Tua dan muda belajar bersama. Tentunya, staf-staf pelatih pun tak luput dari pertanyaan-pertanyaannya. Saat lowong atau jalan bareng pun, si Luh Ayu kadang tangannya terlihat bergerak2 mengulangi latihan tarinya. Dia juga cukup rajin dan mandiri mencari-cari sumber lain terutama dari youtube dan dvd tari. Luh Ayu benar2 menikmati belajar tarian itu, dan dia membuatnya terlihat menyenangkan.

Saat mengingat-ingat aktivitas belajar Luh Ayu selama tiga bulan kebelakang, satu kata terbersit di benakku, “passion”.
Dia mungkin contoh kecil dari yg disebut passion. Menurut artikel yang baru saja aku baca di Kompas*, bahwa passion adalah segala hal yang sangat, sangat, sangat diminati sehingga tidak pernah terpikir untuk tidak mengerjakannya. Disebutkan juga bahwa: “Your passion is NOT what you’re good at – it is what you enjoy the most!

Menurut Luh Ayu, dia tidak pernah memiliki pengalaman menari dan dia bukan juga orang Bali. Bisa dibilang dia memulainya dari awal, sama seperti anak2 kecil lainnya. Pengalaman aikido dan hobinya yang berolahraga memang cukup membantu dalam belajar menari, terutama dalam hal kelenturan dan stamina. Tetapi menari itu memiliki tiga unsur penting: wiraga, wirama dan wirasa. Membiasakan telinga untuk mendengar dan memahami lagu tari pendet, kemudian menyelaraskan dengan gerakan tubuh membutuhkan proses yang tidak singkat. Ditambah berlatih di bawah arahan langsung dari seniman sekaliber Bapak Kompiang Raka yang cukup tegas, dan kemudian mendapatkan persetujuan untuk ikut ujian juga merupakan tantangan tersendiri. Dengan latihan yang kontinue di dalam dan luar kelas, dalam waktu tiga bulan, dia bisa melalui semua itu dan siap ikut ujian. Ini semua karena Luh Ayu melakukannya dengan passion. Bekerja dengan passion = bekerja dengan hati. Dengan passion, aktivitas yang menantang dan tampak susah, jadi menyenangkan, bahkan di usia yang tidak belia lagi.

Penilaian ini mungkin terlalu dini mengingat Luh Ayu baru menjalaninya tiga bulan. Namun setiap langkah maju, sekecil apapun tetap penting dan cerminan proses belajar. Dia telah menunjukkan passion dan tidak ada kata terlambat untuk belajar. Aku rasa Luh Ayu memulainya dg baik, dan aku bangga padanya.
Selamat ujian sayang, semoga sukses :)

NB: Tulisan ini mungkin subyektif, mengingat posisi penulis adalah pacar Luh Ayu. Bisa dikatakan tulisan ini lebih merupakan curahan hati dari orang terdekatnya, dan juga fans-nya

Ref
* Artikel Kompas Sabtu 24 Juli 2010 hal 37 oleh Rene Suhardono, seorang Career Coach, penulis buku: Your Job is not your career

Advertisement